Senin, 07 September 2020

Kitab Primbon : Panduan dan Misteri Kehidupan


Tak sengaja, mungkin seperti itu kalimat saat menemukan buku ini. Buku ini saya beli di gramedia jogja Jln. Jendral Sudirman, daerah kota baru. Niat adalah mencari buku lain tapi masih tentang jawa, sampai disana ternyata buku incaran tidak ada, sudah tidak beredar katanya. Byuh.

Ya sudah, dari pada pulang tanpa tangan. Saya inisiatif berpandang pandang sejenak sembari ngadem, mbok mbok ada yang bagus, langsung tak sikat.

Tibalah saya di deretan buku buku epik menurut saya, setelah saya cek memang harga nya juga epik, dengan rasa sedikit tidak terima, akhirnya ndak jadi tak ambil daripada saya puasa seminggu.

Singkatnya saya pilih buku ini, satu karena penasaran yang kedua karena harganya berada dalam jangkauan, itu saja.

Buku Karangan R. Gunasasmita dengan tebal buku 166 halaman ini berisi tentang pandangan dan perhitungan orang orang jawa mengenai baik buruknya sesuatu, tentunya beserta tanda tanda yang menyertainya. Bagi orang jawa sendiri kitab ini sudah barang tentu tak asing. Kitab primbon ini memang sudah dikenal sejak zaman dahulu oleh masyarakat jawa. Tentunya perhitungan tersebut tidaklah asal, semua berasal dari pengalaman sehari hari nenek moyang terdahulu. 

Perhitungan dalam primbon mengggunakan kalender jawa yang menggunakan perhitungan peredaran bulan, mulai dari hari, pasaran, bulan kemudian tahun semua memiliki perhitungannya sendiri. 

Perhitungan tersebut telah digunakan untuk mengidentifikasi kejadian atau hal hal yang mungkin akan terjadi esok hari atau kemudian hari.

Kitab Primbon adalah sekumpulan kearifan lokal supaya seseorang mampu memahami dirinya, sesamanya, dan alam makrokosmos maupun mikrokosmos tempat dia hidup. Selama ratusan tahun kitab ini menjadi pedoman sehari hari bagi orang orang jawa untuk mengartikan berbagai fenomena. Kandungan ilmu dan ngelmu dalam primbon akan membuat kita mengerti apa yang tidak dimengerti orang lain.

Lalu bukankah rezeki, jodoh dan ajal manusia telah digariskan oleh Allah swt. Tanyaku ??

Lantas kenapa kita harus mempercayai hal hal, perhitungan dan segala macam yg terkandung dalam primbon??

Disini di jelaskan bahwasannya keberadaan primbon dalam kehidupan masyarakat adalah hanya sebagai pijakan atau gambaran sebelum manusia melakukan sesuatu. Semua hasilnya tentunya diserahkan kepada Allah swt. Kita manusia hanya bisa Berusaha dan berdoa.

Jika menurut perhitungan primbon mengatakan bahwa akan terjadi hal buruk, maka hal tersebut bisa kita jadikan alat atau sebagai pengingat bahwa kita harus tetap eling dan waspada. Sebaliknya jika perhitungan primbon mengatakan bahwa akan terjadi hal hal baik, maka hal tersebut kita jadikan sebagai semngat dan menambah motivasi dalam menjalani kehidupan ini.

Kurang lebihnya Seperti itu gambaran yang ingin di sampaikan penulis kepada pembacanya.

Terlepas dari itu semua, saya sebagai pembaca, terlebih saya dari orang jawa. Saya menilai bahwa kitab primbon ini adalah sebuah warisan kebudayaan Jawa dari nenek moyang kita yang luar biasa hebat, bagaimana orang zaman dahulu memiliki ilmu pengetahuan sampai sejauh ini dalam memahami setiap kejadian atau bahasa jawanya niteni, kemudian di setiap perlakuan itu memiliki filosofinya tersendiri. 

Sebagai contoh bagaimana orang jawa dahulu mampu menciptakan perhitungannya sendiri/kalendernya orang jawa yang bukan sembarang perhitungan itu tidak asal asalan menghitung, kemudian menentukan pasaran ada legi, kliwon, pahing, pon, wage lalu bulan, ada bulan sura, sapar, rabiul awal, rabiul akhir, jumadil awal, jumadil akhir, rajab, ruwah, puasa, syawal, zulkaidah dan besar. Yang kesemua itu memiliki angka atau nilainya sendiri sendiri atau disebut Neptu. 

Kemudian dalam setiap hari, pasaran, dan bulan itu mempunyai sifatnya masing masing yang dimana itu semua dijadikan acuan/pedoman sehari hari. Dan memang sudah terbukti bahwa perhitungan tersebut banyak yang terjadi dan masyarakat jawa menjadikan itu sebuah pembelajaran dan mengambil hikmah dari setiap kejadian.

Dan saya sebagai orang jawa asli merasa bangga menjadi orang jawa, ya walaupun jawa yang sudah terkena dampak globalisasi, jawa yang ndak bisa bahasa jawa. 

Satu hal yang membuat saya tertarik adalah perhitungan di dalam primbon yang kesemuanya itu berhubungan dengan kehidupan manusia mulai dari masa kehamilan, kelahiran, sifat atau tabiat manusia, bahkan jodoh dan pernikahan.

Salah satunya hal jodoh dan pernikahan, sebagai lelaki tulen, tentulah saya mengharapkan dambaan hati yang pas, begitu juga harapannya bisa pas dengan apa yang dikatakan oleh primbon ini.

Tak cek lah dengan wanita wanita yang mungkin mau dengan saya, wueleh..

Wah iki, pas iki. Ndadak langsung mbayang seng ora ora. Halah wes mboh..

Di tengah tengah saya membaca buku ini saya sembari membayangkan hidup di zaman dahulu dimana hidup dengan tatanan, perhitungan dan segala tetek bengek nya menjadi sesuatu yg mungkin pada zamannya saya berfikir, " iki ki, terlalu ribet ndak si" karena segala sesuatu harus dalam perhitungan dan tatanan yg pas. Tetapi di satu sisi saya juga membayangkan ketika saya berada dan mengalami zaman itu (dahulu) kemudian saya yg dulu menjadi dan berganti di masa yang sekarang, "haduh pie ki bahasane, ha mumet ta, ya intine kui lah".

Saya berfikir hidup di zaman itu adalah sesuatu yang mengasyikan, dimana kita hidup sebagai orang jawa masih mempunyai identitas/ jati diri sebagai orang jawa, dengan segala peradatannya, anggah ungguhnya dan macem macem.

Kemudian saya membayangkan apabila  kitab primbon jawa seperti ini sudah tidak ada, atau segala sesuatu warisan kebudayaan jawa sudah tidak ada, lalu misal seseorang lahir di tanah jawa, kemudian di tanya kamu dari suku ya? Lalu dia jawab saya jawa, kemudian di tanya lagi buktinya apa? 

Dia termenung..

Berbicara tidak bisa, bahasa tidak mengerti, anggah ungguh tidak ada, pakaian, senjata, kebudayaan.

Kemudian saya membayangkan lagi itu terjadi pada indonesia.

Mungkin indonesia berganti menjadi negara arab? Amerika? Atau bahkan Korea?

Halah wes mboh. 


Nb. Bagi yang akan membaca kitab ini, kemudian nanti di sesuaikan wetonmu dengan sang kekasih dan diperhitungkan dengan primbon ternyata hasilnya tidak pas,

 

Bisa hubungi saya, 

nanti tak critani ben biso pas 


Harunef

Ditulis dengan Hp xiaomi 

jam 5.32 waktu yogyakarta 2020


Sabtu, 05 September 2020

Desa



Ini bukan kabut yang turun di pagi hari, ini sekumpulan asap dari hasil pembakaran sampah yang baru saja kami bersihkan dan kami bakar bersama sama.

"Kerigan" kami menyebutnya atau lebih familiarnya gotong royong.

Minggu depan akan ada Upacara di desa kami, entah upacara apa dan katanya akan dihadiri oleh Wakil Bupati Kebumen. Jadi kemarin kami melakukan kerigan bersama sama membersihkan rumput dan sampah di sepanjang jalan utama menuju Desa. 

Inilah di desa semua dilakukan bersama sama mulai dari membersihkan sampah, bangun jalan, jembatan, rumah tangga (rumah milik tetangga maksudnya) dll. Semua di lakukan bersama sama. Walaupun ada saja yang "nggrundel" di belakang, tapi ndak papa, begitulah desa, Indah.

Semoga ini bisa awet sampai kapanpun. Tak hanya jalan dan rumah saja yang dibangun, tapi juga rasa peduli dan sosial juga di bangun. Sehat selalu yg di desa, yang di kota tolong jangan mengkota-kotakan desa, biarlah desa menjadi dirinya sendiri.

Kebumen, Akhir tahun 2018




 




BALADA PELADANG



Oleh : harunef


Baru bulan lalu rasanya Supri menebar biji – biji kehidupan diladang miliknya, kini harapan – harapan itu bermekaran. Tak sia – sia rupanya Supri mengumpulkan biji – biji kehidupan yang ia kumpulkan maret lalu, tentunya dari menggarap tanah warisan ayahnya itu. Tak banyak memang,  namun bukan hanya soal jumlah yang dicari melainkan berkah yang menyelimuti itu semua. Supri pun bergegas dengan wajah sumringahnya tak sabar ia menjemput rizkiNya dan membawanya pulang kerumah.

“ Mas, itu airnya didalam bak masih segar baru ngambil dari sumur sebelah” ucap sari istrinya. Meski tak bekerja di pabrik – pabrik bonafit milik negara yang mandi pagi berangkat pulang sesuai dengan SOP, Supri juga tak pernah absen mandi pagi. Baginya mandi salah satu esensinya ialah membersihkan, bukan hanya membersihkan badan tapi juga membersihkan jiwa. Jiwa – jiwa yang sumpek, yang belum merdeka dan banyak jiwa – jiwa lainnya diluar sana yang butuh kesucian batiniah. Mandi tidak hanya dengan air, mandi dengan pengetahuan, kegelisahan, kesakitan, penderitaan dan apa saja.

Dengan sundung di pundaknya, Cangkul, arit , pusri sebagai perlengkapan berladang hari ini, tak lupa tembakau didalam plastik berangkat ia ke ladang. Hari ini cerah secerah hati supri melihat tanamannya yang tumbuh subur, tak jemu – jemu supri memandanginya, tanpa basa basi supri langsung memanennya. Baru satu jam rasanya, tanpa sadar sudah setengah ladang ia panen, mentari sudah diatas kepala, suara kumbang bersahutan, rantang nasi mengggoda  supri pun beristirahat di gubuk kecil yang muat paling untuk dua orang saja. Lahap ia memakan bekal yang ia bawa dari rumah. Selepas makan bersender ia pada tiang gubuk sambil mengibas – ngibaskan capingnya, melinting spapirnya, dan menikmati henbusan angin yang membelai keringatnya tanpa berpikir besok hari apa. melihat ia kedepan, ladang luas terhampar, orang orang sibuk memanen, sesekali ia menghela nafas panjang setelah itu menghisap rokok lintingannya, sederhana namun bermakna tiada tara.

Tiba – tiba dari kejauhan suara mesin diesel terdengar , semakin lama semakin mendekat, ladang  yang megah berubah jadi landasan, orang orang tidak lagi memanen sekarang berganti menyemen, satu persatu bangunan berdiri tegak. Tersadar supri ternyata sudah 2 tahun ia tidak berladang, tanah nya sudah diambil tanpa kompromi. Pembangunan dalih nya, tapi mereka lupa membangun apa, mereka membangun turis dinegeri yang agraris.

selesai


#Semacam Cerpen

Yogyakarta, 2019




OMONG KOSONG

 Oleh : harunef

Selayaknya omong kosong, memang tak ada makna.

perkenalan mungkin boleh,  diberi nama Harun Fathurrozaq. lahir di Desa. Desa yang alhamdulilah udaranya masih cukup, tidak kekurangan. Sawangan namanya, tidak sembarang nama ini, kapan kapan saya mungkin boleh berdakik dakik tentang asal usul desa sawangan. wlehh... 

02 Februari 1999 bersyukur masih masuk generasi 90 an. karena milenial cukup menyebalkan bagi saya, mungkin terkesan idealis, tapi perduli setan. Tepatnya Dukuh Beran Rt 05 / Rw 01 layaknya kisah sejarah dalam buku sejarah sejarah peradaban, cukup unik karena kisahnya memisahkan diri dari Rt sebelumnya,  kurang begitu tahu penyebab nya tapi yang jelas tak akoni perjuangan para pendahulu yang berani berdiri sendiri. singkatnya begitu. yang lain2 nanti menyusul

Selayaknya omong kosong memang tak ada makna. 

Ceritanya ingin nulis. kenapa? kepengin saja. Soal isi jangan di tanya, soal makna apalagi, soal susunan apalagi amburadul tentunya. Tapi daripada sama sekali mending saya coba. mungkin asik melihat tulisan2 jaman sekarang di masa yang akan datang seperti mentertawai diri sendiri. mentertawai kehidupan sudah setiap hari masalahnya, haha.

Demikian omong kosong saya. besok mungkin lebih 

Yogyakarta, awal bulan september 2020

NENENGISME, KAPITALISME dan PEMAHAMAN PEMAHAMAN LAINNYA

     Beberapa hari lalu melihat postingan di  kanal media sosial yang cukup membuat saya tertarik, Adalah akun sosial media yang bernama nen...