Senin, 12 Oktober 2020

Semacam puisi : Pagi Hari di Kos Sayuti


 Oleh : harunef

Masih tersisa beras di dalam kantong bulog kecil yang mungkin sangat kecil menampung satu biji untuk di makan menjadi semangat dan harapan tatkala pagi datang di dalam kosku..

Masih tersisa juga lauk dua bungkus indomie yang kubawa dari kampung hasil kondangan dari ibuku melengkapi pagi hari yang semoga ada mimpi yang akan menjadi pelangi di sore hari..

Ada juga piring piring, rak dan sendok sendok yang masih semangat melayani dan menungguku Sedang aku begini begini saja dari pagi hingga pagi lagi..

Kardus, poster dan sepray merah jambu pun Ikut berkoar koar memberikan kepercayaan kepadaku yang masih begini begini saja..


Oh Tugas Akhir..

Mengapa engkau tiada berakhir..

Bagaimana kertas kertas celotehan beserta umpatan bertebaran di atas meja, di lantai dan disudut sudut tembok seakan akan seolah olah seperti lonceng besar sebesar isi dunia di bunyikan tepat di depan telinga yang kecil sekecil biji kemiri..

Denging dan Bergetar.


Tapi ini bukan masalah tugas akhir..

Terlalu sepele urusan seperti itu sampai sampai membuatku mengalihkan dunia yang fana ini. Ini masalah pagi..

Iya, pagi.

Pagi yang penuh dengan harapan dan doa dari sudut sudut kos berukuran tiga kali dua meter di gang buntu itu..

Pagi yang penuh dengan harapan dan doa dari dunia terpinggirkan oleh karena  hamba hambaNya yang pongah . serta

Pagi yang selalu memberikan kabar kepastian akan datangnya malam yang begitu kelam..

Pagi hari di kos sayuti..

Tak salah,

Pagi memang terlalu berharga untuk dilewati dan terlewati begitu saja..

Pagi tak seperti sore hari yang diharapkan dan diagungkan oleh kaum kaum melankoli beserta sekawannya..

Pagi bukan seperti banci pinggiran stasiun tugu karena pagi begitu gagah dan perkasa laksana Manusia yang menyambutnya dengan suka cita..


Barangkali memang benar,

apa yang perlu dikhawatirkan sedang usaha dan doa sudah dilakukan..

Akan selalu ada biji biji ketenangan diantara tanah tanah kegelisahan..

Lalu tumbuh pohon pohon kebersyukuran..



Kos sayuti, jogja 20 September 2020

05:23 WIB


Sabtu, 10 Oktober 2020

Sepotong senja untuk pacarku : Kisah cinta dan senja yang maha agung.

 




Sepotong senja untuk pacarku.

Buku ini saya beli di toko buku di Jalan  Panembahan Senopati No. 1-3 yogyakarta samping utara persis taman pintar dan di sebelah Taman Budaya Yogyakarta . buat yang suka baca baca buku tempat ini sudah barang tentu tidak asing lagi. Bisa di bilang lengkap untuk koleksi bukunya karena dari buku pelajaran, sejarah, novel sampai sastra bisa di temukan disini. Dari original sampai KW yang super banyak tersedia disini. Tentu tak usah ditanya lagi saya membeli yang mana, original atau KW. Sudah pasti yang KW.

Para pecinta sastra pasti sudah tidak asing lagi dengan inisial SGA. Seno Gumira Ajidarma adalah penulis dari generasi baru sastra Indonesia. Pria ini lahir di Boston, Amerika Serikat pada tanggal 19 Juni 1958. Putra dari Prof. Dr. M.S.A Sastroamidjojo, seorang guru besar Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada ini telah menulis beberapa buku karyanya antara lain Atas Nama Malam, Wisanggeni---Sang Buronan, Biola tak Berdawai, Kitab Omong Kosong, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, Negeri Senja, dan pastinya Sepotong Senja untuk Pacarku. 

Selain menulis, Ia juga bekerja sebagai wartawan, fotografer, dan kritikus film Indonesia. Seno menjadi seniman karena terinspirasi oleh Rendra yang santai, bisa bicara, hura-hura, nyentrik, dan rambut boleh gondrong. Ia juga sudah mendapatkan beberapa penghargaan, salah satunya yaitu penghargaan SEA Write Award pada tahun 1987. Kesibukan Seno saat ini adalah membaca, menulis, memotret, jalan-jalan, selain bekerja di Pusat Dokumentasi Jakarta-Jakarta. Kini Ia juga membuat komik, baru saja Ia membuat teater dan sekarang Seno menjadi Rektor di Institut Kesenian Jakarta sejak 2016 dan tetap menjadi dosen di Fakultas Film dan Televisi.

Bagi saya sendiri sosok Seno gumira ajidarma adalah salah satu seorang sastrawan generasi baru yang bisa dibilang menjadi panutan dari penulis penulis baru. Karyanya sudah barang tentu banyak dan keren keren pastinya. Salah satu kata kata beliau yang saya ingat adalah

"Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan  penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia". 

Ini yang membuat saya ketika berada di salah satu momen kehidupan yang menurut saya unik dan berbeda, membuat saya ingin menjadikannya sebuah susunan kata kata yang bisa untuk dibaca oleh siapa saja. Tapi memang menangkapan dan penghayatan dari seno gumira ajidarma ini menurut saya penghayatan yang barangkali paling total dan tak terpikirkan oleh manusia lain. Dan memang beliau sendiri juga membebaskan kepada para pembacanya untuk mengartikan maksud atas apa yang beliau tuliskan dan tidak ada pengertian yang benar benar sesuai kecuali pengertian dari dirinya sendiri.


Tentang Buku

Buku Sepotong Senja untuk Pacarku merupakan kumpulan dari beberapa cerpen. Buku ini terbit pertama tahun 2002, penerbitnya Gramedia.

Dalam buku ini dibagi menjadi tiga bagian di mana bagian pertama menceritakan tentang Trilogi Alina, yaitu mengenai kisah laki-laki yang ingin mengirimkan sepotong senja yang ia saksikan begitu maha agungnya senja itu kemudian untuk dikirmkan kepada pacarnya yang jauh di sana melalui tukang pos dan sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah merahan itupun dimasukkan ke dalam amplop. Dalam Trilogi Alina tersebut dibagi lagi menjadi tiga cerita yaitu cerita pertama tentang bagaimana laki-laki malang itu yaitu sukab mengirimkan sepotong senja untuk pacarnya Alina yang berada nan jauh disana. 

Cerita kedua yaitu jawaban Alina (pacar sang lelaki) terhadap amplop surat yang berisikan sepotong senja dari Sukab (sang lelaki). Dan cerita terakhir dalam Trilogi Alina ini yaitu mengenai tukang pos yang membawakan amplop surat dari Sukab kepada Alina. Dalam cerita tukang pos tersebut diceritakan bahwa amplop surat yang berisikan sepotong senja dari Sukab untuk Alina baru diterima Alina dalam waktu 10 tahun.

Bagian kedua yaitu tentang Peselancar Agung. Dalam bagian Peselancar Agung ini terdiri dari tiga belas cerita mengenai sebuah kota di tepi pantai di mana pelangi tidak pernah memudar dan diceritakan dengan pembahasan yang beragam seperti Ikan Paus Merah, Kunang-Kunang Mandarin, Rumah Panggung di Tepi jalan, Anak-Anak Senja, Mercusuar, dan lainnya dimana semua cerita ada hubungannya dengan senja.

Lalu bagian terakhir berjudul Atas Nama Senja dimana dalam bagian ini terdiri dari tiga cerita yaitu Senja di Pulau Tanpa Nama, Perahu Nelayan Melintas Cakrawala, dan Senja di Kaca Spion.

Pada intinya kumpulan cerpen dalam buku ini mengisahkan tentang laki-laki yang rindu dengan kekasihnya tetapi sang kekasih terlalu mustahil untuk ditemui dan mungkin keberadaannya entah dimana. Seperti halnya kata-kata yang dituliskan pada surat Sukab untuk Alina yang disampaikan melalui tukang pos dimana ditulis oleh Sukab dengan alamat: Alina Ujung Dunia yang juga sempat membuat tukang pos kesulitan untuk mencari Alina. Alasan Sukab mengirimkan sepotong senja untuk pacarnya yaitu sama seperti yang dikatakan dalam cerpen,


 "Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina. 

Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagipula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa pernah mendengar kata-kata orang lain. Mereka berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina."


Sebuah pesan moral yang mungki sangat dekat dengan kehidupan nyata di dunia yang fana ini. Diceritakan juga bagaimana sang laki laki bernama sukab yang dengan tulus mencintai kekasihnya yaitu Alina yang entah berada dimana itu sampai sampai dengan gagah beraninya memotong senja hanya untuk diberikan kepada sang kekasih tercinta Alina seorang. Betapa romantisnya laki laki bernama sukab ini seperti apa yang dituliskan pada bagian akhir surat itu.


" Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. "

"Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia."


Bagian kedua dari trilogi Alina yaitu "jawaban alina", membuat saya penasaran dan segera ingin membaca bagaimana jawaban dari Alina sang kekasih yang entah dimana itu menerima sebuah surat dari laki laki bernama sukab yang begitu tulus mencintainya. Namun sepotong senja yang dikirimkan lewat tukang pos baru sampai setelah 10 tahun. dan tentu sudah banyak cerita yang terlewari selama 10 tahun itu.


"Sukab yang malang, paling malang, dan akan selalu malang. "

" Senja yang kau kirimkan sudah kuterima, kukira sama lengkap seperti ketika engkau memotongnya di langit yang kemerah merahan itu, lengkap dengan bau laut, desir angin dan suara hempasan ombak yang memecah pantai."

"Terus terang aku kasihan sama kamu sukab, mencintai begitu rupa tapi tidak tahu yang kamu cintai sebetulnya tidak mencintai kamu."

" Tapi bukan soal cinta yang sebetulnya ingin kuceritakan padamu sukab. Soal cinta ini sama sekali tidak penting". 


Jawaban yang membuat saya sedikit tersenyum kala itu, jawaban yang begitu lembut seperti sutra yang berwarna putih mengkilat. Sebuah kisah cinta yang begitu romantis terjadi disini, yaitu kisah cinta seorang laki laki bernama sukab yang begitu mencintai kekasihnya hingga rela memotong senja yang maha agung dengan seorang perempuan yang katanya berada di ujung dunia dan tidak begitu mencintai kekasihnya itu.

Dari banyak cerita dalam buku ini, ada beberapa yang sangat menarik perhatian saya, salah satunya yaitu bagian Peselancar Agung dengan judul cerpen Kunang-Kunang Mandarin dimana dalam cerita tersebut Sukab membuat peternakan Kunang-Kunang di kota di tepi pantai di mana pelangi tidak pernah memudar. Peternakan Kunang-Kunang itupun bukan hal biasa. Melainkan kunang-kunang yang berasal dari potongan kuku orang-orang Mandarin. Begitulah dikisahkan bahwa orang Mandarin selalu menyimpan potongan kuku mereka dan bila mereka tiada, potongan kuku itu ikut dikuburkan. Pada malam hari, potongan kuku itu menjelma menjadi kunang-kunang, dan terbang melayang keluar, membuat malam yang gelap gulita di kuburan orang-orang Mandarin menjadi bercahaya.

Kemudian ada juga cerita tentang ikan paus merah dengan luka dari mata anak panah yang menancap di bagian punggung dan masuk kedalam daging sejak dahulu kala dan sampai sekarang masih terus menerus mengeluarkan darah, sehingga seluruh tubuhnya menjadi merah akibat ulah dari manusia yang begitu tega memanah ikan paus yang membuatnya menjadi merah karena darah yang bercucuran di punggungnya dan seolah olah ingin bercerita dengan jeritan pilu yang begitu purba dari perasaan yang terluka dan membuat dia bersedih untuk selama lamanya. Oh manusia.

Rumah panggung di tepi pantai dari bagian peselancar agung juga tak bisa dianggap lalu bagiku. Menceritakan seorang laki laki bernama Sukab, seorang yang di anggap kurang beres otak dan pikirannya oleh orang orang kampung yang tinggal di tepi pantai karena hanya rumah panggung milik sukab sendiri yang ia bangun  yang menghadap ke pantai, sedang rumah orang orang kampung itu semuanya membelakangi pantai. Rumah panggung membelakangi pantai adalah sudah warisan turun temurun dari nenek moyang mereka ternyata.


"Sukab itu gila ! Dari dulu dia memang sudah gila ! Tidak pernah ada rumah panggung menghadap ke pantai di kampung ini. Tidak dulu, tidak sekarang, dan tidak harus ada pula dimasa yang akan datang. Lihat, semua rumah panggung disini membelakangi pantai, menghadap ke jalan raya. Mengapa tiba - tiba harus ada satu rumah yang menghadap ke pantai ?"


Namun semua terjawab dibagian akhir cerita.


" Kini rumah panggung itu tidak ada lagi. Mula mula ia menjadi miring, lantas lama lama roboh, dan akhirnya sekping demi sekeping diseret ombah ke tengah laut. Riwayat tentang rumah panggung di tepi pantai itu sekarang sudah dilupakan orang, seperti semesta yang menguap. Tiada lagi cerita tentang seseorang yang bernama sukab, yang dari senja ke senja duduk bersila di sebuah rumah panggung, menatap lautan lepas."


Sebenarnya masih banyak cerita cerita menarik dari buku ini, cerita yang tidak biasa biasa saja pikirku, bagaimana seno bisa memikirkan setotal itu kemudian dituliskan menjadi sebuah buku. Tapi nanti kalau saya ceritakan semuanya disini apa bedanya dengan menulis ulang buku nya. beli dan baca sendiri bukunya kayaknya lebih baik.

Dalam buku ini terdapat keunikan yaitu teks di atas judul-judul dengan penulisan bahasa zaman dahulu yang lumayan menarik perhatian untuk mengetahui apa pembahasan cerita di dalamnya. Terdapat pula pada cover belakang buku yang menusuk ke hati yaitu sebuah e-mail ucapan terima kasih dari seorang perempuan kepada penulis (Seno Gumira Ajidarma) mengenai senja yang dibicarakan dalam buku ini. Buku ini menarik perhatian sang perempuan karena ternyata Ia mengalami rabun senja sejak berusia 10 tahun dan akhirnya dengan kehadiran buku "Sepotong Senja untuk Pacarku" karya Seno Gumira Ajidarma, Ia dapat menikmati senja yang sedemikian indah dalam cerita-cerita Seno.

Keunggulan 

Keunggulan buku ini yaitu Seno dapat menulis kata-kata sedemikian indah dan mudah untuk dibaca. Dalam buku ini pun Seno membebaskan para pembaca bagaimana Ia menerima maksud dan pesan Seno dalam buku ini sehingga kesimpulan ada pada para pembaca itu sendiri. Seno dapat pula menuliskan kata-kata yang dapat menarik perhatian pembaca sehingga pembaca merasa penasaran dengan perkataan atau cerita selanjutnya yang akan dibicarakan. 

Buku ini tidak tipis dan tidak begitu tebal, dengan ukuran tulisan yang pas dan enak untuk dibaca serta ringan untuk dibawa ke mana-mana. Kumpulan enam belas cerpen ini pun bercerita tentang hal-hal yang mungkin ada dalam imajinasi Seno dan setiap cerita selalu berhubungan dengan senja itu sendiri. Seperti perkataan Seno pada awal buku tersebut, bahwa kumpulan cerita ini sama halnya dengan satu loyang pizza dimana pizza itu sama tapi dengan bagian-bagian yang berbeda dan dengan adanya para pembaca membuat loyang pizza itu tidak selalu lingkaran, melainkan bebas sesuai hati dan pikiran para pembaca. Buku ini juga menyampaikan banyak pesan moral yang dapat bermanfaat untuk para pembaca.


Kelemahan

Walau pada keunggulan buku ini terdapat kata-kata indah dan menarik, tapi dalam buku ini terdapat pula kata-kata yang sedikit sulit untuk dipahami yang pada akhirnya membuat pembaca masih bertanya-tanya apa maksudnya atau apa yang dibicarakan. Terdapat pula kata yang sering diulang walau dengan maksud menegaskan pembahasan tetapi kadang membuat pembaca bingung dan membaca ulang kalimat tersebut. Setiap orang memiliki imajinasi yang berbeda ketika membaca buku ini.


Kesimpulan

Sepotong Senja untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma ini sangat menarik perhatian dengan kata-kata dan pembahasan yang begitu indah dan tidak biasa. Dalam setiap ceritanya pun terdapat pesan yang dapat diterima dan dijadikan moral dari cerita itu sendiri. Terdapat banyak kata-kata yang bagus dan dapat bermanfaat bagi pembaca. Kumpulan cerpen yang menceritakan tentang cinta, rindu, perjuangan, dan senja ini mudah dan nyaman untuk dibaca. 

Salah satu inti dari sekian pesan yang dapat diambil yaitu dari alasan Sukab memberikan sepotong senja untuk pacarnya dimana Ia berkata bahwa orang-orang sibuk berkata-kata tanpa mendengar kata-kata, yang dimaksudkan zaman sekarang orang-orang hanya banyak bicara tanpa ingin mendengarkan orang lain. Dan terakhir terdapat pula pesan dari Peselancar Agung dimana semua orang percaya bahwa Ia dapat terbang di atas pantai ketika senja tiba padahal Ia hanya tukang kibul. Diartikan bahwa masih banyak orang percaya dengan kata-kata orang lain yang sebenarnya Ia tidak mengatakan kebenaran dan pendengar tidak pernah tau kebenarannya.

Tetapi kembali lagi kesimpulan yang paling sesuai adalah ada pada pembaca itu sendiri.


Harunef, awal oktober 2020

Kos Yogyakarta 



Minggu, 04 Oktober 2020

Romantisme Angkringan dan Cerita cerita lainnya.

Oleh harunef




Siang berganti sore, sore juga perlahan lahan meninggalkan peraduannya seperti harapan dan angan angan yang meninggalkan sang pemiliknya dengan lamban serta lirih.

Tai kucing dengan senja  senja yang katanya menjadi primadona masyarakat dan kaum kaum yang penuh dengan kenangan dan pengharapan yang mendayu dayu itu. berganti dengan malam yang kelam. Kelam namun tetap menyimpan sesuatu yang barangkali sayang untuk dilupakan dan menjadi bayang bayang.

Adalah warung makan. Selayaknya warung makan yang  biasa buat makan atau sekedar pesan kopi hitam sekedar melepas permasalahan hidup yang pekat dan melekat yang menyelimutinya.

Biasa disebut Angkringan oleh orang orang.

Angkringan adalah semacam warung makan yang berupa gerobag kayu yang ditutupi dengan kain terpal plastik dengan warna khas, biru atau oranye menyolok. Dengan kapasitas sekitar 8 orang pembeli, angkringan beroperasi mulai sore hari sampai dini hari. Namun kini ada juga yang mulai buka siang hari. 

Sedikit sejarah 

Sejarah angkringan di Jogja merupakan semacam romantisme perjuangan menaklukan kemiskinan. 

Warung makanan ini pertama kali diperkenalkan oleh seseorang yang bernama Mbah Pairo. Beliau adalah orang asli Klaten yang kemudian merantau ke Yogyakarta. Sekitar dekade 1950-an Mbah Pairo menjajakan jualannya dengan cara dipikul dan berkeliling kota Jogja. Mbah Pairo biasanya mangkal di dekat Stasiun Tugu. Pada saat sedang berkeliling, Mbah Pairo menarik perhatian konsumen dengan berteriak Ting... Ting... Hik. Karena teriakan itulah mulanya angkringan dikenal sebagai Hik yang merupakan singkatan dari kalimat Hidangan Istimewa Kampung.

Semakin terkenalnya Mbah Pairo maka ia tidak lagi memikul dagangannya sambil berkeliling kota Yogjakarta. Ia kemudian lebih memilih mangkal dan menggunakan sebuah gerobak kaki lima yang dilengkapi dengan kursi panjang untuk para pembeli. Karena menggunakan kursi yang panjang tersebut, para pelanggannya suka menaikkan sebelah kakinya ke atas kursi. Karena kebiasaan menaikkan satu kaki inilah muncul istilah “angkringan” atau “nangkring” atau “metangkring”.

Mbah Pairo bisa disebut pionir angkringan di Jogjakarta. Usaha angkringan Mbah Pairo ini kemudian diwarisi oleh Lik Man, putra Mbah Pairo sekitar tahun 1969. Lik Man yang kini menempati sebelah utara Stasiun Tugu sempat beberapa kali berpindah lokasi. Seiring bergulirnya waktu, lambat laun bisnis ini kemudian menjamur hingga pada saat ini sangat mudah menemukan angkringan di setiap sudut Kota Jogja. 

Selayaknya warung makan pastilah ada menu yang ditawarkan, selaras dengan itu angkringan memiliki menu yang boleh jadi menjadi identitas dari sebuah angkringan.

Iya, Sego kucing.

Menu yang satu ini memang menjadi sesuatu yang membedakan dengan warung warung makan lainnya. Bagaimana tidak,  Sego (nasi) kucing ini agaknya  memang pantas untuk ukuran kucing, karena ukurannya yang kecil selayaknya porsi kucing barangkali memang yang membuat dia disebut demikian itu.

Sego kucing yang biasanya di bungkus dengan daun pisang , kertas dari koran atau dengan buntalan kertas minyak.

Dengan Isi lauk biasanya oseng tempe, sambal tempe, sambal teri, sambal ijo, rica dan macam macam lainnya.

Silpi.

bukan nama kembang desa yang bau harumnya sampai tercium ke desa sebelah yang bahkan jaraknya ratusan kilo, bukan pula nama janda anak satu yang baru saja ditinggal suaminya entah kemana kemudian hidup sebagai single parents dan kini sedang menjadi buah bibir di kalangan masyarakat khususnya kaum kaum yang mendambakan keselamatan birahi.

Ia adalah nama menu yang ada di angkringan, ia bukan saja mempunyai nama yang indah dan menggoda namun rasa yang juga menggairahkan dan menciptakan suatu keajaiban yang tak bisa dilupa dan membuat siapa saja ingin dapat mencicipinya, lagi dan lagi. 

Silit pitik nama lengkapnya.

Aneh memang, bagaimana mungkin ceritanya pantat ayam yang dimana di gunakan sebagai alat buang hajatnya dari seekor ayam menjadi sebegitu digandrungi bagi kaum kaum yang mencari kenikmatan dunia seperti saya ini.

Silpi yang sehari harinya memang menjadi primadona di dunia per angkringan dan memang sudah melalang buana di dunia yang digelutinya itu.

Barangkali memang harganya yang murah meriah menjadikannya laris manis di angkringan, cukup 2.500 kamu bisa membawa pulang si silpi yang indah dan memberi kesan bergairah itu.dan masih banyak lagi hidangan hidangan lainya yg tak kalah mantap.

Boleh jadi angkringan merupakan  gambaran representasi kaum marjinal berkantung cekak yang beranggotakan sebagian mahasiswa, tukang becak dan buruh maupun karyawan kelas bawah. Namun, peminat angkringan kini bukan lagi kaum marjinal yang sedang dilanda kesulitan keuangan saja, tetapi juga orang berduit yang bisa makan lebih mewah di restoran.

Angkringan ternyata juga memiliki filosofi yang mendalam terutama bagi masyarakat Jawa. Orang Jawa menganggap angkringan bukan hanya sebagai tempat mengisi perut dengan kisaran harga yang relatif murah. Angkringan dianggap sebagai tempat sosialisasi antar warga dan sebagai simbol egaliter antar manusia. Apalagi dengan harga makanan di tempat ini memang murah sehingga tempat ini menjadi suatu sarana berkumpulnya masyarakat antar kelas sosial.

Dengan suasana yang menyajikan kehangatan dan kesederhanaan di setiap kedai angkringan, menjadi suatu sarana bagi masyarakat untuk membaur satu dengan yang lainnya. Tidak memandang seragam dan status sosial. Bahkan seringkali penjualnya ikut terhanyut dalam obrolan para pelanggannya. Hal yang seperti inilah yang menjadikan pelanggan tiap-tiap kedai angkringan punya alasan kembali. Kembali pada kodrat manusia yang memiliki derajat yang sama.

Barangkali memang benar kata pak joko pinurbo, bahwa jogja terbuat dari rindu, pulang dan angkringan.

Ini tak berlebihan menurut saya apa yang dikatakan pak jokpin itu, bukan tanpa alasan tentunya tapi memang bisa di bayangkan malam malam yang kelam dengan permasalahan yg menunggu dengan harapan untuk bisa di selesaikan esok hari, sejenak berslimur mengalihkan perhatian dengan mampir ke angkringan pesan sego kucing, silpi dan wedang jahe atau kopi, dengan udara dingin dan lampu sentir memancarkan cahaya kuning dan diiringi obrolan ngalor ngidul sebagai penghangat suasana menambah kehangatan di tengah dinginnya udara dan segala persoalan yang mendera.

Idola pokoke

Jangan lupa mampir angkringan jogja lur



Jogja, awal oktober 2020

Diketik dengan Hp xiaomi.

23.11





Jumat, 02 Oktober 2020

OMAH JELAH (Semacam Impian, Pelarian atau apalah)

Oleh : harunef

 


 

Sedari awal impian adalah belajar tiga tahun di negeri seberang kemudian lulus, harapannya sebelum lulus sudah dapat kerja, kemudian bisa membantu orang tua, memperkaya diri sendiri kemudian rabi, punya anak, tua bisa hidup enak dan pemahaman pemahaman materialis lainnya yang masih tertancap dan mengecap di kepala. Mungkin seperti itu yg ada dibenak saya tiga tahun lalu. Benak yang mungkin baru sekedar membayangkan saja sudah terbayang, apalagi terejawantahkan, rasanya tak terbayang.

Tiga tahun di tanah orang, tanah yang bukan satu petak dua petak tapi yang satu petak yang di kenal Jogja. istimewa memang. 

banyak orang, banyak ide, banyak gagasan, pemikiran pemikiran yang gila dan luar biasa menurut saya. kemudian semakin kesini saya berfikir mungkin tuhan menciptakan dua tangan bukan hanya sekedar untuk makan dan cebok. Atau hidup bekerja bekerja bekerja kemudian mati.

Tetapi lebih dari itu semua, barangkali terlalu sangat disayangkan apabila kita dalam merayakan anugerah kehidupan yang fana ini hanya dengan hal hal tersebut diatas.

Saya berasal dari dusun.

Merantau sudah menjadi semacam budaya dan pengharapan disini, lulus dari SMA/SMK langsung merantau, ibu kota pastinya. pulang tak tentu setahun sekali, pas lebaran bisa jadi. Pagi nya ikut sholat idul fitri, sore sudah bekerja lagi. Mumpung masih muda katanya, cari uang sebanyak banyaknya kemudian pulang tinggal menikmati hasilnya.

Kurang lebih seperti itu gambarannya. Kami para pemuda jangankan berkumpul berkeluh kesah, bercerita ngalor ngidul, berbicara saja kami lewat sosial media. Padahal pulang cuma setaun sekali itu pun tidak tentu. Tapi ya sudah, hidup adalah pilihan kalo kata orang, kalo ndak ada pilihan brrti esay. Jarene. Jarene lo

Tak bisa dipungkiri memang perkembangan IPTEK ( ilmu pengetahuan dan tetekbengek nya ) telah merubah pola berbicara, pola berpikir dan pola bersosial atau bermasyarakat. Tak cepat memang namun membabad. Terutama pola bersosial anak anak muda di dusun kami yang kini mulai berubah, yang dulu mencair sekarang memadat yang dulu sosial sekarang berubah menjadi individual. Lebih tertarik bermain di sosial media di banding bermain di sosial nyata, lebih tertarik dirumah di banding menjamah keluar rumah dan bermain bersama. Tentu ini sangat di sayangkan mengingat kita tak bisa hidup sendiri dan sejatinya manusia adalah makhluk sosial yang tak lepas dari bantuan orang lain.

Ini bahaya pikirku, Berangkat dari kegelisahan itu semua kami pemuda yg masih tersisa berfikir, ayolah kita bisa mengupayakan sesuatu. Singkat cerita munculah ide, ide pemuda yang pasti, ide yang kalo muncul harus segera dipacul dan ditanami. 

Gasss..

kami berupaya membuat tempat atau wadah yang dimana didalam tempat/wadah itu kita khususnya para pemuda dan para generasi penerus  bisa berkumpul bersenda gurau bernyanyi nyanyi syukur2 bisa berkarya, sesederhana itu awalnya. 

Bermodalkan keberanian dan kecerobohan darah muda tentunya, kami ingin mendirikan sebuah taman bacaan yg disitu selain bisa digunakan untuk berkumpul dan diskusi juga bisa menjadi tempat membaca, bertukar informasi dan nyanyi nyanyi tak lupa. Tak tahu dapat buku buku itu dari mana "seng penting saiki niat ndisek", kalo bahasa indonesianya "yakin", tak lebih seperti itu yang ada dipikiran kami dulu. 

Sebelumnya memang sudah ada Pos, cuma belum ada Sinau nya, jadi kami tambahkan Sinau. Jadilah Pos Sinau. Kira kira seperti itu lah. Ya begitulah

Semacam pos serbaguna, selain untuk ronda juga bisa untuk baca baca, silaturahmi dan bermain remi. 

Semakin lama ide, harapan dan angan angan kami bermuculan selayaknya telur katak sawah pada musim penghujan, bermunculan tak berkesudahan. Tak ada punya malu memang, belum lagi bisa merangkak sudahlah terpikir bisa melompat kesana melompat kemari. 

Inilah kami sekumpulan orang yang kurang pikir, lebih mimpi dan semoga banyak aksi sedang mengakali luangnya angan dan harapan yang semoga bisa terejawantahkan.

Kami menyebutnya Omah Jelah, secara arti omah berarti rumah/tempat, Jelah arti terang/jernih. Jadi rumah sebagai wadah/tempat yg bisa menghasilkan sesuatu yg bermanfaat bagi sekitar dan harapannya kami bisa menjadi terang tanpa harus meredupkan ditengah tengah kegelapan. Itu secara bahasa saja.Terserah orang orang mengartikannya seperti apa, bebas. Sebenarnya kalo saya omah jelah semacam tempat yang indah. Itu saja.

Resmi berdiri 16 Februari 2020, dengan bersamanya lomba mewarnai dan menggambar buat anak anak. harapannya adalah setiap anak bebas berekspresi sesuka mereka tanpa adanya rasa selain senang dan gembira, tidak hanya dimasa kanak kanak tetapi juga dimasa yang akan datang. Yang sudah sudah adalah ketika sudah dimasa masa dewasa yang ada hanyalah kebingungan dan ketakutan untuk berekspresi. Kita mewanti wanti itu agar kelak mereka nanti bisa berekspresi sejadi jadi tidak harus berekspetasi tentang gaji.

Entah bagaimana Acara ini bisa berjalan, padahal kami hanya pemuda yang banyak omong saja sudahlah tentu kami tak punya apa apa apalagi uang dan segala macamnya. Serangan fajar dan tanpa persiapan jadi ciri khas kami, karena gagasan tanpa tindakan adalah omong kosong belaka. Seperti inilah kami berkegiatan singkat, padat, namun tetap hikmat.

Tapi alhamdulilah acaranya bisa berjalan dan lancar, malah ada sisa. Bahkan ada usulan dari salah satu peserta untuk bisa diadakan acara seperti ini lagi. Seperti ini rasanya bisa berbagi kegembiraan dengan orang lain dan bahkan belum lagi selesai acara sudah ditunggu acara selanjutnya, Luar biasa.

Mengasah dengan bungah, Melawan dengan Lapang. Dengan slogan yang sok sok an ini, kami mengajak teman teman semua Untuk bisa selalu belajar/mengasah dengan rasa senang dan melawan dengan lapang, melawan ketidaktahuan, melawan kebohongan ketidakadilan dan apasaja.

Kami menyadari kami ini orang bodoh yang selalu haus akan satu hal yang disebut pengetahuan/ilmu, kemudian mencari ilmu itu tidak harus di sekolah, di gedung gedung megah atau di tempat tempat ibadah.

dan tanpa harus sarjana semua orang bisa menjadi guru, kami Amini semua itu.

Belajar Bersama adik adik, Berolahraga bersama, Bermain bersama adalah salah satu cara kami untuk bisa saling mengenal, membaur, berbagi dan belajar.

Seperti kata pramoedya anata toer

"Didiklah rakyat dengan organisasi, dan didiklah penguasa dengan perlawanan". 

Selalu bagaimana kami ingin  bisa berbuat dan bermanfaat bagi masyarakat kami berharap omah jelah bisa menjadi wadah bagi para pemuda untuk bisa saling berbagi kebahagian, kesederhanaan, kesedihan, ketidakpastian atau Apapun itu. iya, Apa pun.

Berlandaskan kebersamaan kami tak membatasi siapa saja yang ingin bergabung menjadi bagian dari kami, tentunya dengan kesadaran dan kemauan dari dalam diri, bukan karena paksaan ataupun tuntutan dari manapun.

Hari ini belum genap setahun umurnya, masih merangkak dan meraba raba ia,

Mungkin baru sebentar, tapi mungkin juga sudah lama sekali. Entahlah apakah waktu masih penting sekarang ini dan apakah masih bisa di hitung. Entahlah Semoga selalu sehat, panjang umurnya dan diberkahi.

Diujung, barangkali ini semacam pelarian mengejar impian, karena layaknya maghrib menuju isya, barulah bermimpi tetiba kini sudah terjadi.

Selalu dan selalu kami berharap walaupun bersama pengharapan bersamanya pula ketidakpastian dan kekecewaan, tapi tidak masalah karena kami siap dengan ketidakpastian dan kekecewaaan apapun itu bentuknya.

Agar selalu kami bisa bermanfaat bagi diri dan sesama kita.Tidak ada keterikatan yang saklek, selayaknya sosial dan kesadaran itu saja.

Tanpa tahu akan sampai kapan dan seperti apa kedepannya tapi satu hal yang pasti, kami .ADA.

Terakhir barangkali hidup bukan tentang durasi melainkan kontribusi.


Salam.

Mengasah dengan bungah

Melawan dengan lapang



NENENGISME, KAPITALISME dan PEMAHAMAN PEMAHAMAN LAINNYA

     Beberapa hari lalu melihat postingan di  kanal media sosial yang cukup membuat saya tertarik, Adalah akun sosial media yang bernama nen...