Sabtu, 05 September 2020

BALADA PELADANG



Oleh : harunef


Baru bulan lalu rasanya Supri menebar biji – biji kehidupan diladang miliknya, kini harapan – harapan itu bermekaran. Tak sia – sia rupanya Supri mengumpulkan biji – biji kehidupan yang ia kumpulkan maret lalu, tentunya dari menggarap tanah warisan ayahnya itu. Tak banyak memang,  namun bukan hanya soal jumlah yang dicari melainkan berkah yang menyelimuti itu semua. Supri pun bergegas dengan wajah sumringahnya tak sabar ia menjemput rizkiNya dan membawanya pulang kerumah.

“ Mas, itu airnya didalam bak masih segar baru ngambil dari sumur sebelah” ucap sari istrinya. Meski tak bekerja di pabrik – pabrik bonafit milik negara yang mandi pagi berangkat pulang sesuai dengan SOP, Supri juga tak pernah absen mandi pagi. Baginya mandi salah satu esensinya ialah membersihkan, bukan hanya membersihkan badan tapi juga membersihkan jiwa. Jiwa – jiwa yang sumpek, yang belum merdeka dan banyak jiwa – jiwa lainnya diluar sana yang butuh kesucian batiniah. Mandi tidak hanya dengan air, mandi dengan pengetahuan, kegelisahan, kesakitan, penderitaan dan apa saja.

Dengan sundung di pundaknya, Cangkul, arit , pusri sebagai perlengkapan berladang hari ini, tak lupa tembakau didalam plastik berangkat ia ke ladang. Hari ini cerah secerah hati supri melihat tanamannya yang tumbuh subur, tak jemu – jemu supri memandanginya, tanpa basa basi supri langsung memanennya. Baru satu jam rasanya, tanpa sadar sudah setengah ladang ia panen, mentari sudah diatas kepala, suara kumbang bersahutan, rantang nasi mengggoda  supri pun beristirahat di gubuk kecil yang muat paling untuk dua orang saja. Lahap ia memakan bekal yang ia bawa dari rumah. Selepas makan bersender ia pada tiang gubuk sambil mengibas – ngibaskan capingnya, melinting spapirnya, dan menikmati henbusan angin yang membelai keringatnya tanpa berpikir besok hari apa. melihat ia kedepan, ladang luas terhampar, orang orang sibuk memanen, sesekali ia menghela nafas panjang setelah itu menghisap rokok lintingannya, sederhana namun bermakna tiada tara.

Tiba – tiba dari kejauhan suara mesin diesel terdengar , semakin lama semakin mendekat, ladang  yang megah berubah jadi landasan, orang orang tidak lagi memanen sekarang berganti menyemen, satu persatu bangunan berdiri tegak. Tersadar supri ternyata sudah 2 tahun ia tidak berladang, tanah nya sudah diambil tanpa kompromi. Pembangunan dalih nya, tapi mereka lupa membangun apa, mereka membangun turis dinegeri yang agraris.

selesai


#Semacam Cerpen

Yogyakarta, 2019




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NENENGISME, KAPITALISME dan PEMAHAMAN PEMAHAMAN LAINNYA

     Beberapa hari lalu melihat postingan di  kanal media sosial yang cukup membuat saya tertarik, Adalah akun sosial media yang bernama nen...