Baru bulan lalu rasanya Supri menebar biji – biji kehidupan diladang miliknya, kini harapan – harapan itu bermekaran. Tak sia – sia rupanya Supri mengumpulkan biji – biji kehidupan yang ia kumpulkan maret lalu, tentunya dari menggarap tanah warisan ayahnya itu. Tak banyak memang, namun bukan hanya soal jumlah yang dicari melainkan berkah yang menyelimuti itu semua. Supri pun bergegas dengan wajah sumringahnya tak sabar ia menjemput rizkiNya dan membawanya pulang kerumah.
“
Mas, itu airnya didalam bak masih segar baru ngambil dari sumur sebelah” ucap
sari istrinya. Meski tak bekerja di pabrik – pabrik bonafit milik negara yang mandi
pagi berangkat pulang sesuai dengan SOP, Supri juga tak pernah absen mandi
pagi. Baginya mandi salah satu esensinya ialah membersihkan, bukan hanya
membersihkan badan tapi juga membersihkan jiwa. Jiwa – jiwa yang sumpek, yang
belum merdeka dan banyak jiwa – jiwa lainnya diluar sana yang butuh kesucian
batiniah. Mandi tidak hanya dengan air, mandi dengan pengetahuan, kegelisahan,
kesakitan, penderitaan dan apa saja.
Dengan sundung di
pundaknya, Cangkul, arit , pusri sebagai perlengkapan berladang hari ini, tak
lupa tembakau didalam plastik berangkat ia ke ladang. Hari ini cerah secerah
hati supri melihat tanamannya yang tumbuh subur, tak jemu – jemu supri
memandanginya, tanpa basa basi supri langsung memanennya. Baru satu jam
rasanya, tanpa sadar sudah setengah ladang ia panen, mentari sudah diatas
kepala, suara kumbang bersahutan, rantang nasi mengggoda supri pun beristirahat di gubuk kecil yang
muat paling untuk dua orang saja. Lahap ia memakan bekal yang ia bawa dari
rumah. Selepas makan bersender ia pada tiang gubuk sambil mengibas – ngibaskan
capingnya, melinting spapirnya, dan menikmati henbusan angin yang membelai
keringatnya tanpa berpikir besok hari apa. melihat ia kedepan, ladang luas
terhampar, orang orang sibuk memanen, sesekali ia menghela nafas panjang
setelah itu menghisap rokok lintingannya, sederhana namun bermakna tiada tara.
Tiba – tiba dari
kejauhan suara mesin diesel terdengar , semakin lama semakin mendekat, ladang yang megah berubah jadi landasan, orang orang
tidak lagi memanen sekarang berganti menyemen, satu persatu bangunan berdiri
tegak. Tersadar supri ternyata sudah 2 tahun ia tidak berladang, tanah nya
sudah diambil tanpa kompromi. Pembangunan dalih nya, tapi mereka lupa membangun
apa, mereka membangun turis dinegeri yang agraris.
selesai
#Semacam Cerpen
Yogyakarta, 2019


Tidak ada komentar:
Posting Komentar