Kesunyian
SETELAH ULANG Tahun ke 25 yang diyakinkan dengan ucapan panjang umur dan syukur seperti hari hari sebelumnya aku terbangun.
Pagi hari itu pintu kamarku diketuk dengan keras. keras sekali.
Ku buka ada seorang pria. Kutanya, siapa ? " aku masa depanmu nanti."Kulihat, muka dan sisiran rambutnya memang mirip denganku, tapi cara memandang dan kesupelan bicaranya seperti Duta SO7.
Ada apa ? "Boleh masuk?" " Ya, masuklah. maaf, berantakan, " aku menggeser gelas kopi kotor yang menimbulkan bau jamur dan ada seekor cicak di dalamnya, "Aku belum sempat nyuci, banyak kerjaan. Banyak penindasan yang harus diungkapkan. Aku bahkan belum kepikiran potong rambut." Dia mengangguk-anggkuk. Aku tahu sebenarnya dia tidak tak paham dan memang tidak perlu paham; lagi pula aku hanya sok berarti bagi sesama makhluk hidup.
Kumisnya tebal dan matanya begitu lugu dan arif; dia memiliki cara memandang seorang maha guru di masa yang akan datang. "Itu siapa?"
Dia menunjuk foto. "itu pacarku." Dia terlihat memastikan, mungkin menyamakan dengan Istrinya. sedang aku belum menanyakan kepastian Istrinya di masa depan. "Ada perlu apa? Pinjam uang?" Dia menggeleng. " Biaya kuliah?" Menggeleng lagi. " Ketenangan?" Menggeleng. "Lalu?" Dia berbalik, mendekat dan menatapku dengan welas asih, "Aku cuma ingin melihat masa muda ku."Aku memeluk erat, kemudian menguatkan kedua bahunya.
Pagi ini, tidak seperti biasa, aku merasa bahagia dan tak ingin mati muda. dan di luar, harusnya tuhan sudah mulai menurunkan hujan.
ditulis jam enam pagi lewat dua belas menit di hp samsung a55
Tidak ada komentar:
Posting Komentar