Jumat, 02 Oktober 2020

OMAH JELAH (Semacam Impian, Pelarian atau apalah)

Oleh : harunef

 


 

Sedari awal impian adalah belajar tiga tahun di negeri seberang kemudian lulus, harapannya sebelum lulus sudah dapat kerja, kemudian bisa membantu orang tua, memperkaya diri sendiri kemudian rabi, punya anak, tua bisa hidup enak dan pemahaman pemahaman materialis lainnya yang masih tertancap dan mengecap di kepala. Mungkin seperti itu yg ada dibenak saya tiga tahun lalu. Benak yang mungkin baru sekedar membayangkan saja sudah terbayang, apalagi terejawantahkan, rasanya tak terbayang.

Tiga tahun di tanah orang, tanah yang bukan satu petak dua petak tapi yang satu petak yang di kenal Jogja. istimewa memang. 

banyak orang, banyak ide, banyak gagasan, pemikiran pemikiran yang gila dan luar biasa menurut saya. kemudian semakin kesini saya berfikir mungkin tuhan menciptakan dua tangan bukan hanya sekedar untuk makan dan cebok. Atau hidup bekerja bekerja bekerja kemudian mati.

Tetapi lebih dari itu semua, barangkali terlalu sangat disayangkan apabila kita dalam merayakan anugerah kehidupan yang fana ini hanya dengan hal hal tersebut diatas.

Saya berasal dari dusun.

Merantau sudah menjadi semacam budaya dan pengharapan disini, lulus dari SMA/SMK langsung merantau, ibu kota pastinya. pulang tak tentu setahun sekali, pas lebaran bisa jadi. Pagi nya ikut sholat idul fitri, sore sudah bekerja lagi. Mumpung masih muda katanya, cari uang sebanyak banyaknya kemudian pulang tinggal menikmati hasilnya.

Kurang lebih seperti itu gambarannya. Kami para pemuda jangankan berkumpul berkeluh kesah, bercerita ngalor ngidul, berbicara saja kami lewat sosial media. Padahal pulang cuma setaun sekali itu pun tidak tentu. Tapi ya sudah, hidup adalah pilihan kalo kata orang, kalo ndak ada pilihan brrti esay. Jarene. Jarene lo

Tak bisa dipungkiri memang perkembangan IPTEK ( ilmu pengetahuan dan tetekbengek nya ) telah merubah pola berbicara, pola berpikir dan pola bersosial atau bermasyarakat. Tak cepat memang namun membabad. Terutama pola bersosial anak anak muda di dusun kami yang kini mulai berubah, yang dulu mencair sekarang memadat yang dulu sosial sekarang berubah menjadi individual. Lebih tertarik bermain di sosial media di banding bermain di sosial nyata, lebih tertarik dirumah di banding menjamah keluar rumah dan bermain bersama. Tentu ini sangat di sayangkan mengingat kita tak bisa hidup sendiri dan sejatinya manusia adalah makhluk sosial yang tak lepas dari bantuan orang lain.

Ini bahaya pikirku, Berangkat dari kegelisahan itu semua kami pemuda yg masih tersisa berfikir, ayolah kita bisa mengupayakan sesuatu. Singkat cerita munculah ide, ide pemuda yang pasti, ide yang kalo muncul harus segera dipacul dan ditanami. 

Gasss..

kami berupaya membuat tempat atau wadah yang dimana didalam tempat/wadah itu kita khususnya para pemuda dan para generasi penerus  bisa berkumpul bersenda gurau bernyanyi nyanyi syukur2 bisa berkarya, sesederhana itu awalnya. 

Bermodalkan keberanian dan kecerobohan darah muda tentunya, kami ingin mendirikan sebuah taman bacaan yg disitu selain bisa digunakan untuk berkumpul dan diskusi juga bisa menjadi tempat membaca, bertukar informasi dan nyanyi nyanyi tak lupa. Tak tahu dapat buku buku itu dari mana "seng penting saiki niat ndisek", kalo bahasa indonesianya "yakin", tak lebih seperti itu yang ada dipikiran kami dulu. 

Sebelumnya memang sudah ada Pos, cuma belum ada Sinau nya, jadi kami tambahkan Sinau. Jadilah Pos Sinau. Kira kira seperti itu lah. Ya begitulah

Semacam pos serbaguna, selain untuk ronda juga bisa untuk baca baca, silaturahmi dan bermain remi. 

Semakin lama ide, harapan dan angan angan kami bermuculan selayaknya telur katak sawah pada musim penghujan, bermunculan tak berkesudahan. Tak ada punya malu memang, belum lagi bisa merangkak sudahlah terpikir bisa melompat kesana melompat kemari. 

Inilah kami sekumpulan orang yang kurang pikir, lebih mimpi dan semoga banyak aksi sedang mengakali luangnya angan dan harapan yang semoga bisa terejawantahkan.

Kami menyebutnya Omah Jelah, secara arti omah berarti rumah/tempat, Jelah arti terang/jernih. Jadi rumah sebagai wadah/tempat yg bisa menghasilkan sesuatu yg bermanfaat bagi sekitar dan harapannya kami bisa menjadi terang tanpa harus meredupkan ditengah tengah kegelapan. Itu secara bahasa saja.Terserah orang orang mengartikannya seperti apa, bebas. Sebenarnya kalo saya omah jelah semacam tempat yang indah. Itu saja.

Resmi berdiri 16 Februari 2020, dengan bersamanya lomba mewarnai dan menggambar buat anak anak. harapannya adalah setiap anak bebas berekspresi sesuka mereka tanpa adanya rasa selain senang dan gembira, tidak hanya dimasa kanak kanak tetapi juga dimasa yang akan datang. Yang sudah sudah adalah ketika sudah dimasa masa dewasa yang ada hanyalah kebingungan dan ketakutan untuk berekspresi. Kita mewanti wanti itu agar kelak mereka nanti bisa berekspresi sejadi jadi tidak harus berekspetasi tentang gaji.

Entah bagaimana Acara ini bisa berjalan, padahal kami hanya pemuda yang banyak omong saja sudahlah tentu kami tak punya apa apa apalagi uang dan segala macamnya. Serangan fajar dan tanpa persiapan jadi ciri khas kami, karena gagasan tanpa tindakan adalah omong kosong belaka. Seperti inilah kami berkegiatan singkat, padat, namun tetap hikmat.

Tapi alhamdulilah acaranya bisa berjalan dan lancar, malah ada sisa. Bahkan ada usulan dari salah satu peserta untuk bisa diadakan acara seperti ini lagi. Seperti ini rasanya bisa berbagi kegembiraan dengan orang lain dan bahkan belum lagi selesai acara sudah ditunggu acara selanjutnya, Luar biasa.

Mengasah dengan bungah, Melawan dengan Lapang. Dengan slogan yang sok sok an ini, kami mengajak teman teman semua Untuk bisa selalu belajar/mengasah dengan rasa senang dan melawan dengan lapang, melawan ketidaktahuan, melawan kebohongan ketidakadilan dan apasaja.

Kami menyadari kami ini orang bodoh yang selalu haus akan satu hal yang disebut pengetahuan/ilmu, kemudian mencari ilmu itu tidak harus di sekolah, di gedung gedung megah atau di tempat tempat ibadah.

dan tanpa harus sarjana semua orang bisa menjadi guru, kami Amini semua itu.

Belajar Bersama adik adik, Berolahraga bersama, Bermain bersama adalah salah satu cara kami untuk bisa saling mengenal, membaur, berbagi dan belajar.

Seperti kata pramoedya anata toer

"Didiklah rakyat dengan organisasi, dan didiklah penguasa dengan perlawanan". 

Selalu bagaimana kami ingin  bisa berbuat dan bermanfaat bagi masyarakat kami berharap omah jelah bisa menjadi wadah bagi para pemuda untuk bisa saling berbagi kebahagian, kesederhanaan, kesedihan, ketidakpastian atau Apapun itu. iya, Apa pun.

Berlandaskan kebersamaan kami tak membatasi siapa saja yang ingin bergabung menjadi bagian dari kami, tentunya dengan kesadaran dan kemauan dari dalam diri, bukan karena paksaan ataupun tuntutan dari manapun.

Hari ini belum genap setahun umurnya, masih merangkak dan meraba raba ia,

Mungkin baru sebentar, tapi mungkin juga sudah lama sekali. Entahlah apakah waktu masih penting sekarang ini dan apakah masih bisa di hitung. Entahlah Semoga selalu sehat, panjang umurnya dan diberkahi.

Diujung, barangkali ini semacam pelarian mengejar impian, karena layaknya maghrib menuju isya, barulah bermimpi tetiba kini sudah terjadi.

Selalu dan selalu kami berharap walaupun bersama pengharapan bersamanya pula ketidakpastian dan kekecewaan, tapi tidak masalah karena kami siap dengan ketidakpastian dan kekecewaaan apapun itu bentuknya.

Agar selalu kami bisa bermanfaat bagi diri dan sesama kita.Tidak ada keterikatan yang saklek, selayaknya sosial dan kesadaran itu saja.

Tanpa tahu akan sampai kapan dan seperti apa kedepannya tapi satu hal yang pasti, kami .ADA.

Terakhir barangkali hidup bukan tentang durasi melainkan kontribusi.


Salam.

Mengasah dengan bungah

Melawan dengan lapang



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NENENGISME, KAPITALISME dan PEMAHAMAN PEMAHAMAN LAINNYA

     Beberapa hari lalu melihat postingan di  kanal media sosial yang cukup membuat saya tertarik, Adalah akun sosial media yang bernama nen...