Oleh harunef
Siang berganti sore, sore juga perlahan lahan meninggalkan peraduannya seperti harapan dan angan angan yang meninggalkan sang pemiliknya dengan lamban serta lirih.
Tai kucing dengan senja senja yang katanya menjadi primadona masyarakat dan kaum kaum yang penuh dengan kenangan dan pengharapan yang mendayu dayu itu. berganti dengan malam yang kelam. Kelam namun tetap menyimpan sesuatu yang barangkali sayang untuk dilupakan dan menjadi bayang bayang.
Adalah warung makan. Selayaknya warung makan yang biasa buat makan atau sekedar pesan kopi hitam sekedar melepas permasalahan hidup yang pekat dan melekat yang menyelimutinya.
Biasa disebut Angkringan oleh orang orang.
Angkringan adalah semacam warung makan yang berupa gerobag kayu yang ditutupi dengan kain terpal plastik dengan warna khas, biru atau oranye menyolok. Dengan kapasitas sekitar 8 orang pembeli, angkringan beroperasi mulai sore hari sampai dini hari. Namun kini ada juga yang mulai buka siang hari.
Sedikit sejarah
Sejarah angkringan di Jogja merupakan semacam romantisme perjuangan menaklukan kemiskinan.
Warung makanan ini pertama kali diperkenalkan oleh seseorang yang bernama Mbah Pairo. Beliau adalah orang asli Klaten yang kemudian merantau ke Yogyakarta. Sekitar dekade 1950-an Mbah Pairo menjajakan jualannya dengan cara dipikul dan berkeliling kota Jogja. Mbah Pairo biasanya mangkal di dekat Stasiun Tugu. Pada saat sedang berkeliling, Mbah Pairo menarik perhatian konsumen dengan berteriak Ting... Ting... Hik. Karena teriakan itulah mulanya angkringan dikenal sebagai Hik yang merupakan singkatan dari kalimat Hidangan Istimewa Kampung.
Semakin terkenalnya Mbah Pairo maka ia tidak lagi memikul dagangannya sambil berkeliling kota Yogjakarta. Ia kemudian lebih memilih mangkal dan menggunakan sebuah gerobak kaki lima yang dilengkapi dengan kursi panjang untuk para pembeli. Karena menggunakan kursi yang panjang tersebut, para pelanggannya suka menaikkan sebelah kakinya ke atas kursi. Karena kebiasaan menaikkan satu kaki inilah muncul istilah “angkringan” atau “nangkring” atau “metangkring”.
Mbah Pairo bisa disebut pionir angkringan di Jogjakarta. Usaha angkringan Mbah Pairo ini kemudian diwarisi oleh Lik Man, putra Mbah Pairo sekitar tahun 1969. Lik Man yang kini menempati sebelah utara Stasiun Tugu sempat beberapa kali berpindah lokasi. Seiring bergulirnya waktu, lambat laun bisnis ini kemudian menjamur hingga pada saat ini sangat mudah menemukan angkringan di setiap sudut Kota Jogja.
Selayaknya warung makan pastilah ada menu yang ditawarkan, selaras dengan itu angkringan memiliki menu yang boleh jadi menjadi identitas dari sebuah angkringan.
Iya, Sego kucing.
Menu yang satu ini memang menjadi sesuatu yang membedakan dengan warung warung makan lainnya. Bagaimana tidak, Sego (nasi) kucing ini agaknya memang pantas untuk ukuran kucing, karena ukurannya yang kecil selayaknya porsi kucing barangkali memang yang membuat dia disebut demikian itu.
Sego kucing yang biasanya di bungkus dengan daun pisang , kertas dari koran atau dengan buntalan kertas minyak.
Dengan Isi lauk biasanya oseng tempe, sambal tempe, sambal teri, sambal ijo, rica dan macam macam lainnya.
Silpi.
bukan nama kembang desa yang bau harumnya sampai tercium ke desa sebelah yang bahkan jaraknya ratusan kilo, bukan pula nama janda anak satu yang baru saja ditinggal suaminya entah kemana kemudian hidup sebagai single parents dan kini sedang menjadi buah bibir di kalangan masyarakat khususnya kaum kaum yang mendambakan keselamatan birahi.
Ia adalah nama menu yang ada di angkringan, ia bukan saja mempunyai nama yang indah dan menggoda namun rasa yang juga menggairahkan dan menciptakan suatu keajaiban yang tak bisa dilupa dan membuat siapa saja ingin dapat mencicipinya, lagi dan lagi.
Silit pitik nama lengkapnya.
Aneh memang, bagaimana mungkin ceritanya pantat ayam yang dimana di gunakan sebagai alat buang hajatnya dari seekor ayam menjadi sebegitu digandrungi bagi kaum kaum yang mencari kenikmatan dunia seperti saya ini.
Silpi yang sehari harinya memang menjadi primadona di dunia per angkringan dan memang sudah melalang buana di dunia yang digelutinya itu.
Barangkali memang harganya yang murah meriah menjadikannya laris manis di angkringan, cukup 2.500 kamu bisa membawa pulang si silpi yang indah dan memberi kesan bergairah itu.dan masih banyak lagi hidangan hidangan lainya yg tak kalah mantap.
Boleh jadi angkringan merupakan gambaran representasi kaum marjinal berkantung cekak yang beranggotakan sebagian mahasiswa, tukang becak dan buruh maupun karyawan kelas bawah. Namun, peminat angkringan kini bukan lagi kaum marjinal yang sedang dilanda kesulitan keuangan saja, tetapi juga orang berduit yang bisa makan lebih mewah di restoran.
Angkringan ternyata juga memiliki filosofi yang mendalam terutama bagi masyarakat Jawa. Orang Jawa menganggap angkringan bukan hanya sebagai tempat mengisi perut dengan kisaran harga yang relatif murah. Angkringan dianggap sebagai tempat sosialisasi antar warga dan sebagai simbol egaliter antar manusia. Apalagi dengan harga makanan di tempat ini memang murah sehingga tempat ini menjadi suatu sarana berkumpulnya masyarakat antar kelas sosial.
Dengan suasana yang menyajikan kehangatan dan kesederhanaan di setiap kedai angkringan, menjadi suatu sarana bagi masyarakat untuk membaur satu dengan yang lainnya. Tidak memandang seragam dan status sosial. Bahkan seringkali penjualnya ikut terhanyut dalam obrolan para pelanggannya. Hal yang seperti inilah yang menjadikan pelanggan tiap-tiap kedai angkringan punya alasan kembali. Kembali pada kodrat manusia yang memiliki derajat yang sama.
Barangkali memang benar kata pak joko pinurbo, bahwa jogja terbuat dari rindu, pulang dan angkringan.
Ini tak berlebihan menurut saya apa yang dikatakan pak jokpin itu, bukan tanpa alasan tentunya tapi memang bisa di bayangkan malam malam yang kelam dengan permasalahan yg menunggu dengan harapan untuk bisa di selesaikan esok hari, sejenak berslimur mengalihkan perhatian dengan mampir ke angkringan pesan sego kucing, silpi dan wedang jahe atau kopi, dengan udara dingin dan lampu sentir memancarkan cahaya kuning dan diiringi obrolan ngalor ngidul sebagai penghangat suasana menambah kehangatan di tengah dinginnya udara dan segala persoalan yang mendera.
Idola pokoke
Jangan lupa mampir angkringan jogja lur
Jogja, awal oktober 2020
Diketik dengan Hp xiaomi.
23.11




Tidak ada komentar:
Posting Komentar