Senin, 12 Oktober 2020

Semacam puisi : Pagi Hari di Kos Sayuti


 Oleh : harunef

Masih tersisa beras di dalam kantong bulog kecil yang mungkin sangat kecil menampung satu biji untuk di makan menjadi semangat dan harapan tatkala pagi datang di dalam kosku..

Masih tersisa juga lauk dua bungkus indomie yang kubawa dari kampung hasil kondangan dari ibuku melengkapi pagi hari yang semoga ada mimpi yang akan menjadi pelangi di sore hari..

Ada juga piring piring, rak dan sendok sendok yang masih semangat melayani dan menungguku Sedang aku begini begini saja dari pagi hingga pagi lagi..

Kardus, poster dan sepray merah jambu pun Ikut berkoar koar memberikan kepercayaan kepadaku yang masih begini begini saja..


Oh Tugas Akhir..

Mengapa engkau tiada berakhir..

Bagaimana kertas kertas celotehan beserta umpatan bertebaran di atas meja, di lantai dan disudut sudut tembok seakan akan seolah olah seperti lonceng besar sebesar isi dunia di bunyikan tepat di depan telinga yang kecil sekecil biji kemiri..

Denging dan Bergetar.


Tapi ini bukan masalah tugas akhir..

Terlalu sepele urusan seperti itu sampai sampai membuatku mengalihkan dunia yang fana ini. Ini masalah pagi..

Iya, pagi.

Pagi yang penuh dengan harapan dan doa dari sudut sudut kos berukuran tiga kali dua meter di gang buntu itu..

Pagi yang penuh dengan harapan dan doa dari dunia terpinggirkan oleh karena  hamba hambaNya yang pongah . serta

Pagi yang selalu memberikan kabar kepastian akan datangnya malam yang begitu kelam..

Pagi hari di kos sayuti..

Tak salah,

Pagi memang terlalu berharga untuk dilewati dan terlewati begitu saja..

Pagi tak seperti sore hari yang diharapkan dan diagungkan oleh kaum kaum melankoli beserta sekawannya..

Pagi bukan seperti banci pinggiran stasiun tugu karena pagi begitu gagah dan perkasa laksana Manusia yang menyambutnya dengan suka cita..


Barangkali memang benar,

apa yang perlu dikhawatirkan sedang usaha dan doa sudah dilakukan..

Akan selalu ada biji biji ketenangan diantara tanah tanah kegelisahan..

Lalu tumbuh pohon pohon kebersyukuran..



Kos sayuti, jogja 20 September 2020

05:23 WIB


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NENENGISME, KAPITALISME dan PEMAHAMAN PEMAHAMAN LAINNYA

     Beberapa hari lalu melihat postingan di  kanal media sosial yang cukup membuat saya tertarik, Adalah akun sosial media yang bernama nen...